Berkah Bisnis Jual Beli Barang Bekas Warga Sinindian

0
88
Sony Turangan warga Keluarahan Sinindian, yang memulai bisnis jual beli barang bekas sejak tiga tahun lalu. (Foto: Alan Pontoh/Radarbolmongonline.com

RB, KOTAMOBAGU – Bagi kebanyakan orang kardus bekas hanya dipandang sebagai sampah yang harus dibuang dan dimusnahkan. Namun pemikiran itu tidak berlaku bagi Sony Turangan. Pria yang tinggal di Kelurahan Sinindian, Kecamatan Kotamobagu Timur ini memanfaatkan nilai ekonomi kardus bekas untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah.

Sony yang awalnya hanya bermodalkan pinjaman ini, bahkan telah tiga tahun menjalani profesinya. Kepada Radar Bolmong Sony mencoba berbagi alasan saat pertama kali terjun di bisnis ini.

 

Sony mengaku membuka bisnis jual beli kardus bekas awalnya hanya untuk mengisi waktu luang menjalankan usaha lainnya, beternak ayam. Alasan lainnya adalah Sony melihat belum ada yang membuka bisnis ini di Kotamobagu, sehingga dirinya termotivasi untuk mencoba mengadu nasib di bisnis ini, meskipun sempat tak memiliki modal.

 

‘’Saya awalnya harus meminjam modal ke teman dekat saya untuk tambahan modal. Dari modal itu kemudian bisnis mulai saya jalankan,’’ kata Sonny.

 

Bemodalkan kenekatan dan pinjaman itu, Sony pun mulai merintis jual beli kardus. Hasilnya, bisnis ini lancar sesuai prediksinya. Bahkan, beberapa bulan kemudian, ia sudah bisa menyicil alat pres karton kepada temannya di Jakarta. Ia juga mulai melebarkan sayap dengan mulai membeli kertas bekas.

 

Sony mengaku, untuk mendapatkan kardus dan kertas bekas, ia harus keliling ke toko-toko dan rumah-rumah warga. Terkadang pula ada yang datang langsung ke rumahnya untuk menjual kardun dan kertas bekas itu.

 

Dalam pembelian kardus dan kertas bekas, jelas Sony, tergantung jarak yang ditempuhnya. Jika jaraknya dekat, Sony berani membeli kardus atau kertas dengan harga per kilogram Rp1.000. Namun jika jaraknya cukup jauh, Sony hanya mampu membelinya Rp800 per kilogram.

 

“Kan jaraknya jauh maka butuh bahan bakar yang banyak,” ungkapnya.

 

Setelah barang bekas mulai bertumpuk di rumahnya, proses pengepakkan pun mulai dilakukan. Mulai dari melakukan pengepresan hingga disusun rapi dan siap dijual. Setelah dirapibarang bekang bekas tersebut pun siap dikirim ke Kota Bitung. Menurut Sony, pengiriman dilakukan dua minggu sekali.

 

‘’Dan untuk setiap kali pengiriman sebanyak 9 ton kardus dan kertas bekas,’’ katanya,

 

Saat ini, omzet yang dihasilkan Sony pun  mencapai Rp9juta per dua minggu dengan keuntungan bersih Rp1 juta.

 

Menurut Sony, keuntungan yang dia dapatkan memang terbilang kecil, sebab anggaran mulai dari pembelian kardus atau kertas, pembelian BBM, dan ongkos pekerjaan lainnya lumayan besar.  Belum lagi risiko harga yang tak stabil dalam usaha jual beli barang bekas ini. Namun, memunyai prinsip teguh dalam menjalani usahanya.

 

 

“Jika harga barang yang dikirim mengalami penurunan maka kadang tidak ada keuntungan sama sekali. Tapi kalau lagi bagus-bagusnya lumayan juga pendapatannya. Intinya,

walaupun keuntungan sedikit yang penting usaha saya tetap berjalan lancar,” tandas Sony.

 

Selain mendapatkan keuntungan, bisnis Sony ini juga mendapatkan keuntungan lainnya, yakni berkurangnya sampah yang dihasil masyarakat ataupun pertokoan. Hal ini pun turut diapresiasi Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotamobagu Alex Saranaung.

“Kami Pemerintah sangat mengapresiasi adanya kegiatan usaha seperti ini,” tutup Saranaung. (mg36/mly)

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here