B 1-4-5-4 DON

0
90

Oleh: HAIRIL PAPUTUNGAN

BINGUNG baca judul? Santai saja. Itu pelat nomor mobil kode Jakarta. Itu sangat Mongondow. Bahasa Manadonya, Biasa Jo. Mongondownya lebih pas. Biasadon. Ada apa dengan judul nyeleneh itu? Ini pengalaman. Lima tahun lalu saya diajak turut meramaikan Pemilihan Wali Kota-Wakil Wali Kota Kotamobagu periode 2013-2018. Saya harus menyebut diajak karena benar-benar memang diajak. Turut meramaikan ya karena memang hanya sampai sekadar Turut Meramaikan. Tidak sampai jadi calon. Mentok di bakal calon. Mentoknya kenapa, mending tidak usah dibahas. Siapa yang ngajak, tidak perlu lagi diumbar. Sudah lewat. Nanti nyerempet sana sini lagi hehe…Semula memang tidak berharap apa-apa. Lama-lama jadi berharap juga. Siapa tahu terpilih. Siapa tahu beneran jadi wakil wali kota. Maka, daripada kelak dicap cuma sekadar iko rame, beking baharap orang, saya lantas bertekad serius. Super serius malah. Dalam politik, kesempatan dan peluang bisa datang berulang-ulang. Tapi kepercayaan orang tidak muncul hanya sebentar. Perlu proses. Status sekadar diajak dibuang jauh-jauh. Tidak boleh mempermainkan calon konstituen. Risikonya terlalu besar. Rupa-rupa gaya dipakai guna menarik minat calon pemilih. Senatural mungkin bila tampil di publik. Membiarkan orang menilai apa saja tentang saya. Mau yang jelek sekalipun diterima lapang dada. Tidak perlu didebat. Tidak perlu dibantah. Biarkan mengalir apa adanya. Contoh ringan, kebiasaan nongkrong di warung kopi. Suliiiit sekali dihilangkan. Bagaimana-pun semenjak kuliah sudah kadung nempel di Jalan Roda (Jarod) Manado. Contoh lain lagi; main bola. Saya paling tidak tahan lewat di lapangan sepakbola ketika melihat anak-anak sedang main bola. Pasti turun dan nonton. Bila memungkinkan, ikut main. Mungkin bawaan dari profesi. Juga hobi. Padahal sesungguhnya bukan pemain bola. Saya cuma jurnalis yang separuh karir banyak meliput di lapangan bola. Kalau-pun main bola akhirnya jadi rutinitas, sesungguhnya bukan untuk mengejar karir. Bisa dibilang balas dendam. Karena tidak tersalur sewaktu masih muda wkwkwkw….
Masih contoh lain; main sepeda. Ah, kalau yang ini sih ikut tren saja. Waktu itu lagi booming orang bersepeda. Saya-pun latah bersepeda. Bergaya mirip pebalap. Atribut lengkap. Pakai helm, sarung tangan, juga kostum sepeda. Pokoknya sok pebalap. Kegiatan bersepeda, selain gaya-gayaan, juga terselip niat ingin menurunkan bobot tubuh. Maklum, tubuh saya teramat mudah membengkak. Selain berharap bisa sedikit mengerem mulut dari godaan makanan, juga dibarengi dengan olahraga. Bersepeda lumayan menguras energi. Dan sungguh-sungguh bisa membantu menstabilkan bobot tubuh. Tapi, lama-lama bosan juga. Soalnya, beberapa kali kelilingi Kotamobagu (tentu menghindari jalanan menanjak ke utara dan timur), saya acap keki. Cuma sendirian. Nyaris tidak pernah bersua dengan rombongan pesepeda. Kalau-pun ada, cuma anak-anak kecil yang main sepeda mini. Dan itu-pun hanya di kompleks tertentu. Malah lebih banyak di halaman rumah. Beberapa teman saya ajak. Ternyata kurang merespon. ‘’Lebe bae hadir di pesta kalo basosialisasi. Atau beking acara yang bisa mengumpulkan banyak orang. Di situ baru Anda tampil.’’ Aduh, makin redup niat untuk terus bersepeda. Saya lantas putuskan, cukup sepekan sekali bersepeda. Itu-pun lebih banyak ke Jalan Bubak (Bungko-Bakan), kawasan perkebunan dan persawahan.
Contoh lain; jogging. Kalau ini sih hampir sama seperti sepakbola. Memang sudah jadi rutinitas. Bila waktu senggang sedikit, saya ambil sepatu sneakers. Lantas jogging seputaran kampung. Bila sudah capek, saya acap mampir di warung. Beli air mineral dan ngobrol dengan orang-orang yang sedang nongkrong di warung itu. Biasanya mampir di warung yang banyak orang sedang nongkrong. Bisa ditebak niatnya kan? Kata anak-anak zaman now; modus wkwwkwk…
Beberapa kali menerobos lewat belakang kampung-kampung. Orang Mongondow bilang Pondulak. Ketemu orang-orang yang sedang kerja di sawah. Bersua yang sedang mencangkul di kebun. Mampir di tempat-tempat pembuatan tela. Orang Pobundayan bilang Los Tela. Bertemu orang-orang ini, saya jadi baper (terbawa perasaan). Maklum, masa kecil dulu akrab di kebun. Akrab dengan bau becek sawah. Bau menyengat sapi dan roda. Bau dan debu los tela.
Mengingat itu semua, saya tidak jarang geli sendiri. Senyum-senyum sendiri. Ada-ada saja cara agar lekas dikenal calon pemilih.
Nah, kalau diundang hadir di salah satu acara, entah itu hajatan hidup, atau hajat orang meninggal, banyak kali saya menyelinap. Biar bisa duduk semau saya. Biar bisa ngobrol bebas dengan orang-orang sekeliling. Biar bisa merokok. Maklum saya perokok (Maaf bagi bukan perokok, saya sedang berjuang menghilangkan kebiasaan buruk ini). Tapi, itu ternyata susah. Jika hadir di penghujung acara, baru bisa bebas duduk sembarangan. Akan tetapi, bila hadir di paruh acara, atau baru dimulai, jangan berharap lebih. Tempat duduk di barisan depan sudah disiapkan. Kadang panitia penjemput tamu harus ‘mengusir’ undangan yang sudah duluan hadir. Hanya untuk memberi tempat bagi kami-kami yang sedang getol bersosialisasi. Di sini kadang saya merasa amat sedih. Juga merasa trenyuh. Masak sih kami-kami yang masih kuat berdiri diberi tempat dan kursi empuk? Orang-orang tua yang sudah sepuh malah dipinggirkan. Kecuali ia mantan pejabat, baru dapat tempat sederajat. Kebiasaan yang membuat saya acap merasa tidak sopan. Menggusur tempat duduk undangan yang sudah capek-capek hadir sebelum acara mulai. Apa boleh buat, ternyata saya larut dengan kebiasaan itu. Saya bahkan terlena. Dan juga jadi raja tega. Tapi, seringkali juga tidak enak jika bertahan di tempat duduk yang dimaui. Misalnya di barisan belakang. Sebab, MC di panggung pasti teriak-teriak mengajak ke depan. Daripada nanti dicap sok cari perhatian karena nama disebut terus di sound sistem, ya mengalah saja. Ikut maunya yang berhajat. Menurut saya, ini kebiasaan yang tidak perlu dilestarikan. Tidak adil dan masih berbau feodalisme. Yang baca dan kurang setuju dengan tulisan asal-asalan ini, silakan. Dijamin saya terima dengan senang hati. Pasca Pilwako 2013, hingga jelang Pilwako 2018 mendatang, posisi duduk saya juga belum diubah si pengundang. Masih diberi tempat di depan. Mau bagaimana lagi, sudah enak duduk di belakang, eh si tukang pegang mikrofon malah makin nyaring teriak minta saya didorong ke depan. Bila kursi barisan depan sudah penuh, panitia tetap punya trik. Membawakan kursi cadangan untuk disejajarkan dengan undangan-undangan istimewa (biasanya kelas pejabat) deretan elit. Hadeeeewww…yang seperti ini harusnya tidak perlu. Sekali lagi tidak layak dilestarikan. Pakai saja moto sederhana; siapa cepat dia dapat. Tidak perlu main ‘usir’ mereka yang sudah duluan. Apalagi harus menggusur orang-orang tua sepuh yang justru lebih pantas diberi pelayanan istimewa. Artinya, status undangan sama (isi amplop saja yang beda wkwkwkwkw).
Lebih miris lagi jika sholat. Pada satu kesempatan, saya mampir Jumatan di salah satu masjid di kawasan Kotamobagu Barat. Tidak niat harus sholat di mana. Kebiasaan sebagai orang yang lebih banyak di jalan ketimbang berkutat di kantor, maka saban tiba waktu sholat, sasaran adalah masjid terdekat. Nah, karena saat saya lewat khotib sudah naik mimbar, spontan mampir. Daripada makin terlambat. Begitu kelar wudhu, eh ternyata sudah ada beberapa orangtua dan tokoh masyarakat kampung menunggu di belakang. Saya pikir mereka juga hendak wudhu. Ternyata bukan saudara-saudara. Mereka memang sudah melihat saya memasuki halaman masjid dan mengawal mulai wudhu untuk selanjutnya digiring masuk masjid disiapkan tempat di shaf depan dekat mimbar. Waduh, kok sampai sebegininya memperlakukan saya yang baru bakal calon. Benar-benar keki berat. Mau memberontak dan menolak, tentu tidak enak. Nanti dikira cari perhatian pula. Kan pasti dipaksa terus untuk ke depan. Ya, daripada nanti jamaah terganggu menyimak khotbah, saya manut saja. Walau dalam hati sungguh tersiksa. Karena ini niatnya mau ibadah, saya hanya bisa istighfar dan berprasangka baik. Apalagi yang menggiring ke shaf depan tokoh-tokoh masyarakat kampung itu. Juga tokoh-tokoh agama. Tiga tahun kemudian, sekali waktu saya mampir lagi di Mesjid itu. Kali ini pas waktu magrib. Belum waktunya kasak kusuk Pilkada. Enteng sekali masuk. Membaur sholat berjamaah. Di barisan shaf belakang. Kebetulan memang cuma empat shaf. Usai sholat, salaman dengan jamaah lain. Pertama cuek. Makin ke depan mulai ada yang melirik. Lebih ke depan lagi, mulai ditegur. Di kerumunan dekat Imam, yang mengenali saya langsung memeluk. Cipika-cipiki. Pake jabat tangan digoyang-goyang lagi. ‘’Mau maju lagi tahun depan?’’ Salah satu tokoh masyarakat menodong pertanyaan itu. Saya tidak langsung menjawab. Senyam-senyum saja. Mungkin penasaran, mereka mengelilingi saya. Langsung memberondong rupa-rupa pertanyaan. Karena belum ada niat, maka saya jawab seadanya, sesopan mungkin. Masih di dalam masjid pula. ‘’Mungkin belum. Biar mereka yang lebih layak yang maju. Saya ingin jadi penonton dulu.’’ Salah satu tokoh pemuda protes; Papa Venna harus maju lagi. Kami siap membantu.’’ Terharu juga sih. Ternyata mereka tidak lupa. ‘’Sukurmoanto untuk respon dan apresiasinya. Tapi saya belum menentukan sikap.’’ Dan memang, hingga penghujung penentuan dari bakal calon menjadi calon, saya memilih betul-betul jadi penonton. Sebelum pamit, saya bergurau, ‘’Untung tadi tidak dijemput seperti dulu. Kalau sampai dijemput lagi, bisa besar kepala saya. Biasa don. Dika don molatihan (artinya, biasa jo, tidak usah latihan).’’ Meledaklah tawa kami dalam masjid.
Balik ke atas lagi ya. Judulnya itu B-1-4-5-4-DON. Mobil operasional pemberian kantor, yang jadi tunggangan untuk sosialisasi lima tahun silam, memang berpelat mirip. Karena kode Manado (Sulut) DB dan hanya dua huruf akhir, maka saya ubah dalam bahasa Manado; DB 1454 JO. Setahun saya pakai keliling sosialisasi, tidak ada yang memerhatikan pelat itu. Sukurlah. Sebab, jika misalnya kodenya B di depan, dan dibolehkan tiga huruf di belakang seperti Jakarta, mungkin saya minta izin ke polisi dibolehkan pakai B 1454 DON.
Masih bingung? Begini; niatnya bukan mononteek (Nyindir. Basosere dalam bahasa Manado). Kebiasaan yang men(t)uankan tamu, yang dianggap istimewa, misal karena sedang digadang maju di Pilwako, pada hajatan-hajatan di kampung-kampung adalah obyek ‘sindiran’ itu. Saya tidak hendak menyentil teman-teman, utat komintan motolu adi’ yang kini punya niat serupa seperti saya lima tahun silam. Sama sekali tidak. Jangan nanti dikira iri karena saya tidak masuk bursa bakal calon. Lantas menulis dengan gaya nyeleneh begini. Maaf utatku, mengingat masih ada urusan lebih penting, dan ini menyangkut masa depan keluarga, saya menghindari hiruk pikuk Pilwako. Lantas saya hubung-hubungkan dengan pelat nomor berangka sindiran, ya siapa yang merasa tersindir, mending mundur teratur. Jika celoteh ini dijadikan guyonan, niscaya Anda akan jadi primadona. Walau saya tidak bisa menjamin, kelak bakal diakomodir partai. Dan jika-pun diakomodir lantas resmi jadi calon, juga saya tidak mungkin memberi jaminan Anda bakalan terpilih menjadi wali kota atau wakil wali kota periode 2018-2023. Tidak perlu saya urai apa dan bagaimana mekanisme parpol menjaring bakal jagoannya untuk diterjunkan ke Pilwako. Rasanya Anda sudah atau sedang merasakannya kini. Berharap terjaring parpol dan kemudian meraup suara terbanyak, biar terwujud impian sebagai top eksekutif. Biasa don ambe. Dika don molatihan. Dega natua utat.(***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here