Catatan Tentang “Murid Politik”

0
71

Oleh: Matt Jabrik

DUA kali saya diberitahu teman wartawan, soal Ahmad Alheid menulis. Pertama, Hendra Mamonto, wartawan yang juga pemimpin redaksi koran mingguan Kabar Boltim, ketika dia beritahu saya tanggapi santai saja. Saya mengira tulisan opini Alheid soal pilwako Kotamobagu yang Hendra maksud.
Setelah saya ketemu Edmon Mamonto, wartawan Harian Komentar, dan dia memberitahu hal yang sama, baru timbul rasa penasaran. Tulisan apa sih yang senior saya ini luncurkan. Saya meminta Edmon, untuk perlihatkan sadurannya, kebetulan dia konversi
dalam bentuk gambar beberapa terbitan koran harian di Sulut yang memuat tulisan tersebut. Ohh! Ternyata soal Eang, sapaan akrab kami kepada Bupati Boltim, Sehan Landjar. Pantas saja, teman teman wartawan tadi memberitahu saya sembari sumringah. Ahmad Alheid, adalah salah satu dari Aparatur Sipil Negara (ASN), yang terang terangan berseberangan dengan Eang, ketika pilkada Boltim lalu.
Tulisannya diberi judul: Guru Politik. Ini yang saya baca di harian Radar Bolmong. Beberapa media lain terbitan Sulut, judulnya ada yang ditambah seperti: “Sehan sang Guru Politik (Harian Metro)” dan beberapa judul lain yang temanya kurang lebih sama.
Saya tidak heran jika Alheid akhirnya menulis tentang Sehan Landjar. Kami berdua yang sempat dikenal dengan julukan duo Mat-Matt (tulisan Katamsi Ginano di Kronik Mongondow) karena getolnya pertarungan dengan Eang di pilkada, jujur saja memang sudah beberapa kali bertemu orang nomor satu di Boltim tersebut. Bisa dibilang, saya yang ajak dia ketemu Bupati beberapa bulan lalu. Dia awalnya ragu, karena sejak pilkada usai hingga jelang dua tahun kepemimpinan Sehan Landjar dan Rusdi Gumalangit, belum pernah ketemu langsung. Belum tahu bagaimana nanti sikap Eang. Hanya saya yang coba meyakinkan dia bahwa sang Bupati mungkin tidak lagi menyimpan dendam. Apalagi selama ini kami yakin, segala kritik atau sikap politik kami yang pada akhirnya harus berseberangan dengan Eang, bukan karena perselisihan pribadi. Politik meniscayakan perbedaan pilihan, dan Eang, yang kami yakini, tidak akan sedangkal pemahaman politik kaum awam lainnya. Saya pribadi, tetap menganggap Eang dan Umi Siwin sebagai orang tua saya, karena kekerabatan keduanya dengan Ayah saya yang tidak bisa diukur dengan kepentingan politik apapun. Rasa hormat kepada mereka selayaknya kepada kedua orang tua saya, tidak akan berubah, bagaimanapun tanggapan keduanya atas sikap saya selama ini.
Dengan modal keberanian dan sedikit “muka tembok” kami coba bersua. Beruntung kabag TUP saat itu, Udel Simbala, rela menyediakan ruangan ditambah hidangan kopi suguhan sukarela dari stafnya, untuk kami menunggu Bupati keluar ruangannya. Tentu saja, hanya momentum itu yang bisa jadi kesempatan. Tak mungkin kami berlagak keren seperti tamu Bupati lain yang mengisi daftar tamu dan menunggu giliran masuk ruangannya. Disapa baik baik saat bersua saja sudah lebih dari cukup rasanya. Pucuk dicinta ulampun tiba. Eang keluar ruangan, dan tepat sekali posisi kami di ruang kabag TUP, bisa langsung dilihat. Kami langsung diajak bergabung, namun dengan guyonan ala Eang biasanya. “Kiapa lei ngoni dua (itu untuk kami berdua). Mo suka pindah lebe jao lagi(saya yakin tujuannya ke Alheid)?” Spontan kalimat itu langsung disambut gelak tawa orang di sekitar. Kalimat seperti ini yang saya tunggu. Justru, suasana tegang selama beberapa jam sejak awal menunggu hingga pertemuan, akhirnya mencair dan menjadi perbincangan yang hangat. Apa hadiah dari pertemuan yang sebenarnya tak kami ungkap keinginan kami hingga berpisah tersebut? Ya! Alheid akhirnya dikembalikan tugas ke ibukota Tutuyan, dari Jiko Blanga, wilayah terujung perbatasan Kabupaten Boltim dan Bolsel. Tanpa diminta, tanpa disebutkan, Eang cepat paham dan tanggap setiap gerak politis seseorang. Upaya lobi lobi adalah gerak statis politik. Memang Alheid sudah kepalang ingin kembali bertugas di Tutuyan, karena kondisi dia tidak memungkinkan untuk terus jauh dari rumah. Kewajiban untuk membantu istri mengurus rumah tangga terlebih putri kedua mereka yang masih sangat kecil, menjadi halangan terbesar jika harus menetap di Jiko Blanga. Eang memang piawai berpolitik, selain menjaga konsistensi pendukungnya juga lihai menjaga hubungan dengan para lawan, hingga mereka senantiasa segan.
Saya bangga akhirnya kakanda saya Ahmad Alheid, berbesar hati memuji mantan lawannya. Saya tahu, tidak ada maksud terselubung di sana, misalkan meminta jabatan dari sang Bupati. Kami acap kali berbincang masalah rotasi jabatan hingga jalannya kepemerintahan Eang di periode keduanya ini. Alheid selalu menolak jika saya usulkan dia melobi jabatan ke Bupati. Bahkan saya dengar, dia sudah pernah ditawari jabatan kabag humas oleh Eang, jabatan yang pernah dia pegang di masa Pjs Bupati Rudi Mokoginta. Tapi dia menolak dan mengaku bahwa pangkat dan golongan belum tepat menduduki jabatan eselon IIIA. Sudah cukup katanya bisa pindah dari tempat tugas dulu di Jiko Blanga, ketika mutasi pasca pilkada. Saya tahu betul, sejumlah ungkapan Alheid pada tulisannya, seperti frasa “politisi zamannya”, serta pengakuannya yang pernah menyarankan beberapa lawan politik Eang untuk memakai strategi serupa agar bisa bersaing, adalah murni buah pikiran dia setelah banyak mengamati pola politik Eang.
Alheid, salah satu penulis idola saya. Pemilihan kata serta penyusunan kalimat yang dia racik membuat karyanya enak dibaca. Pengalaman dia di dunia jurnalistik hingga pernah menjadi kontributor wilayah Sulut untuk majalah Tempo, telah menempa karakter tulisannya yang harus diakui istimewa.
Tulisan yang baik, ditulis orang baik. Itu yang saya yakini sejak dulu. Alheid, adalah sahabat dan kakak yang baik. Salah satu ASN yang baik. Buktinya dia tidak abai dengan kewajiban apel pagi dan sore di kantor dinas perpustakaan dan kearsipan daerah, tempat dia bertugas saat ini. Walau tidak bisa dipungkiri, orang yang memiliki kemampuan secemerlang itu, tak layak menjadi staf biasa, di SKPD yang (maaf) saya saja tak paham fungsi dan prospek kantor tersebut untuk daerah seperti Boltim. Tapi berbesar hatilah k’ Mat. Penulis yang baik adalah pembaca yang baik bukan? Di situ, anda akan puas membaca, alih alih menambah wawasan sebagai modal menulis berikutnya untuk Eang.(*)

Penulis adalah petani sekaligus pedagang kecil-kecilan di Tombolikat (Boltim).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here