Guru Politik

0
72

oleh: Ahmad Alheid

Beberapa waktu lalu saya mengunjungi kediaman Bupati Boltim Sehan Landjar. Saat itu saya datang bersama Erman Mokodompit alias Har. Seperti juga saya, Har dalam kesehariannya adalah aparatur sipil negara (ASN). Juga, sebagaimana saya, untuk rentang waktu tertentu Har berjarak dari Sehan dan sering melontarkan kritik pedas pada Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Amanat Nasional (DPW PAN) Sulut ini. Sebelumnya, saya telah dua kali bersua dengan Sehan, namun hanya terlibat obrolan terbatas karena kondisi dan situasi yang tidak memungkinkan untuk berbincang panjang lebar.
Saya dan Har termasuk kelompok ASN ‘nakal’ yang sering membuat Eang –begitu biasanya Sehan lebih akrab disapa—‘kebakaran jenggot’. Karena itulah, saya merasa Har cukup punya nyali ketika mengajak saya bertandang ke rumah penguasa Bumi Timur Totabuan ini.
Saat tiba, Eang sedang berbincang dengan sekelompok mahasiswa di teras rumahnya, di tempat biasa dia menerima tamu. Sekretaris pribadinya memberi isyarat menunggu giliran. Tapi, kami tak perlu menunggu lama. Tak berselang lama, tiba-tiba istri Eang, Nursiwin Dunggio, berdiri di hadapan saya. Perempuan yang lebih akrab saya panggil Ummi Siwin ini mengajak kami duduk bergabung dengan Eang. Dari kejauhan Eang pun melambai dan memanggil kami.
Tak ada yang berubah dari keberadaan Eang sejak awal saya mengenal pribadi ini. Pembicaraan yang senantiasa mengalir, penuh semangat menyampaikan gagasan-gagasannya, dan guyonan segar yang selalu menggelitik dan membuat ngakak orang-orang di sekitarnya. Reaksi kemurkaan yang saya kuatirkan menyambut kami, sama sekali tidak tersirat dari wajahnya. Hal serupa terlihat dari wajah Ummi Siwin, yang menyambut kami dengan senyum lebar dan penuh keakraban. Eang menunjukkan gambaran sebagai politisi matang dan kedewasaan mental sebagai pemimpin. Begitu pun Ummi Siwin, memperlihatkan dirinya sebagai figur publik dan keluasan hatinya sebagai pendamping seorang politisi sebesar Eang.
Suasana yang diciptakan kedua orang ini, membuat saya lebih leluasa menangkap potret Eang dan lebih nyaman merespons obrolannya.
Saat saya bergaul dengan para lawan politik Eang beberapa waktu lalu, saya menyarankan untuk meniru gaya komunikasi politik Eang. Saran saya didasarkan pada pengamatan pribadi bahwa dalam konteks politik, Eang adalah komunikator handal yang sulit dicari tandingannya. Dalam komunikasi personal, dia mampu merontokkan jarak yang menghalangi antara dia dan komunikan. Sementara di hadapan massa, dia adalah agitator ulung. Dia memiliki retorika yang memukau, artikulatif dalam menyampaikan buah-buah pikirannya, dan tidak berjarak dengan audiens.
Boleh jadi, kemampuan Eang adalah bakat alamiah yang dimilikinya. Dengan itu mudah baginya memobilisasi dukungan politik. Namun, menurut saya, selalu ada yang bisa kita pelajari dari Eang, baik sebagai kawan atau saat berseberangan dengannya. Eang adalah politisi zamannya. Saat ini adalah era ketika rakyat membutuhkan pemimpin yang terjun aktif dan bukan berdiam di ‘singgasana’.
Saat berbincang dengan kami, Eang menyentil tentang pentingnya kritik dalam penyelenggaraan pemerintahan. Seorang penguasa akan abai melakukan introspeksi diri dan mengoreksi kesalahannya bila dibiarkan tanpa ada kritikan. Dia mengilustrasikan bahwa bahkan seseorang yang berdiri di hadapan cermin, dia tidak akan bisa melihat bagian belakang dirinya. Di situlah kritik diperlukan. Kita bisa meminjam mata orang lain untuk melihat apa yang lemah dari pikiran dan tindakan kita lewat kritikan yang diarahkan pada kita.
Menurut Eang, kritik diperlukan selama itu konstruktif dan didasarkan pada kepentingan orang banyak. Dia membedakan antara kritik dan hujatan, yang secara umum tak jarang disamakan. Hujatan adalah penyerangan pada persoalan pribadi dan hal-hal yang tidak membawa kemaslahatan atau dalam terminologi Islam disebut sebagai ghibah.
Eang juga adalah tipe orang yang selalu ingin berinteraksi dengan orang lain; terjun aktif ke tengah rakyatnya; dan berkomunikasi dengan bawahan. Dia gerah jika harus senantiasa duduk di ‘belakang meja’ dan bersikap eksklusif sebagai penguasa. Karena sikap itulah dia senantiasa mendapatkan ide-ide segar untuk memotivasi bawahan dan rakyatnya.
Dia pun mendorong aparat pemerintahan di bawahnya untuk senantiasa meningkatkan profesionalitas. Inovatif dalam menyusun program yang menyentuh kepentingan rakyat dan tertib dalam administrasi pengelolaan keuangan. Tak heran, jika pemerintah kabupaten ini empat kali diganjar opini WTP oleh auditor BPK.
Sekali lagi, baik dalam posisi sebagai kawan atau lawan, Eang adalah guru politik yang sesungguhnya. Dari dia kita bisa belajar cara memobilisasi dukungan politik dan gaya menjalankan kekuasaan.

Penulis adalah staf pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Boltim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here